Advertiser

Your Ad Here

feel it

Demi Rp 30.000, Berjam-jam Mereka Menggangsir Bumi
Zaenudin, seorang penambang batubara di Kampung Cipicung, Desa Darmasar, Kecamatan Bayah, Lebak, Banten, menunjukkan kualitas batubara kepada Tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa Kompas, Sabtu (9/5). Kualitas batubara di Banten termasuk baik dengan nilai kalori 7000, tetapi kandungannya tak ekonomis untuk ditambang secara besar-besaran.


Kamis, 14 Mei 2009 | 08:02 WIB

KOMPAS.com- HARI sudah siang untuk ukuran desa, menjelang pukul 08.00, tetapi Zaenudin bersama tiga rekannya baru meninggalkan rumahnya di Kampung Cipicung, Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Berboncengan satu motor berempat, mereka menuju sebuah lahan di samping perkebunan karet.

Setelah melaju di jalan provinsi yang mulus, motor berbelok kanan memasuki areal perkebunan. Jalan setapak masih licin karena hujan semalam. Motor harus dikendarai sangat hati-hati dengan kemahiran yang sudah terlatih.

Sekitar 15 menit, sampailah mereka ke areal pertambangan rakyat batubara. Jangan bayangkan areal ini seperti areal pertambangan modern yang luas dengan alat-alat berat bekerja 24 jam penuh. Jangan bayangkan pula lubang-lubang tambang menganga berukuran raksasa.

Areal pertambangan di sini adalah kebun rakyat, di lereng-lereng bukit. Ada juga yang terhampar di tanah datar dekat sungai. Sedangkan sumur tambang batubara tak lebih besar dari sumur-sumur di rumah penduduk yang diamternya tak sampai satu meter.

Melalui mulut sumur yang sempit itulah, para penambang nantinya masuk ke lubang tambang tanpa peralatan keselamatan kerja apa pun. Selama sehari penuh, biasanya diselingi istirahat satu jam, mereka berada di dalam lubang yang berlorong-lorong sempit sejauh 200-an meter untuk mencongkeli lapisan batubara.

Disedot dan disembur

Begitu sampai di lokasi, Zaenudin dan kawan-kawan menyiapkan peralatan. Mereka menghidupkan mesin penyedot air dan blower untuk meniupkan udara ke dalam lubang tambang.

“Setiap hari lubang harus disedot airnya. Udara dimasukkan agar kita tidak kena gas beracun,” kata Zaenudin kepada Tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa Harian Kompas 2009 yang menemuinya, Sabtu (9/5) sore lalu di pangkalan batubara pinggir jalan Pelabuhan Ratu-Bayah.

Sembari menunggu air kering dan udara luar masuk tambang, Zaenudin dan kawan-kawan menanak nasi dan menjerang air. Begitu nasi tanak, mereka membuka bekalnya berupa ikan dan lalapan seadanya. Mereka pun sarapan dan ngopi sambil ngariung.

Sekitar satu jam kemudian, satu per satu masuk ke lubang tambang melalui para-para kayu yang diikat seperti layaknya menara terbalik. Tanpa kesulitan, mereka mencapai dasar sumur yang hanya dieterangi empat lampu 15-an watt.

Udara pengap tak mereka rasakan. Padahal bagi yang belum biasa, masuk sumur itu bisa pingsan karena kekurangan oksigen. Wartawan Kompas Rony Ariyanto Nugroho yang mencoba masuk lubang misalnya, hampir saja pingsan karena tak tahan menahan kepengapan.

Menurut Rony yang akhirnya berhasil masuk lubang, dasar sumur itu hanya remang-remang. Di sana ada lorong-lorong ke beberapa arah. Setiap lorong panjangnya berbeda. Ada yang 200 meter, ada yang 100 meter, ada yang 150 meter,. Ketinggian lorong hanya 70-an sentimeter, sehingga para penambang harus berjalan sambil merunduk atau bahkan jongkok.

“Kalau beruntung mendapatkan lapisan batu bara yang tebal, tinggi lorong bisa satu setengah meter atau lebih. Sehingga kami bisa leluasa bekerja,” kata Zaenudin menceritakan kondisi lorong tambang.

Bisa dibayangkan betapa susahnya mereka mencongkeli batu bara dengan linggis atau ganco di lorong sesempit itu. “Kadang kami harus mengganco sambil ngegelosor,” lanjut Zaenudin yang mengaku sudah lebih dari lima tahun menambang.

Setelah bekerja tiga sampai empat jam, batubara yang terkumpul itu kemudian dimasukkan ke dalam karung-karung yang sudah disiapkan. Setelah semuanya siap, dari dalam sumur mereka menutup dan membuka selang blower. Bunyi “bung bung” dari selang yang ditutup buka itu merupakan pertanda bahwa batubara siap ditarik ke atas. Penambang yang bertugas di luar lubang pun segera mengerek karung itu ke atas. Sekitar pukul 11.30, para penambang naik untuk makan siang. “Jam satu biasa kami masuk lagi,” kata Zaenudin.

Hanya Rp 30.000

Pekerjaan yang berat bertaruh nyawa itu ternyata tak memberi hasil besar bagi para penambang. Zaenudin memang menyebut angka fantastis. Jika mendapatkan tiga ton sehari, ia dan kawan-kawan bisa memperoleh Rp 900.000 atau Rp 225.000 per orang. Tapi angka itu dengan asumsi ia mempunyai modal sendiri untuk memodali penggalian itu sejak awal.

Padahal kenyataannya, sebagian sangat besar penambang hanyalah pekerja yang diupah Rp 100 per kg batubara yang didapat, seperti dikatakan Suyadi, seorang koordinator lapangan, istilah untuk penghubung antara pemodal dan penambang.

“Penambang seperti Zaenudin atau Uus, dan umumnya masyarakat di sini mana punya modal untuk menggali sumur,” kata Suyadi yang mengaku menguasai lima hektar lahan tambang. Sebab, kata Suyadi, untuk menggali sumur sebelum bisa menghasilkan batubara diperlukan modal paling sedikit Rp 3 juta dan waktu kerja minimal 30 hari.

Karena itu, kata Suyadi, umumnya penambang hanya berpenghasilan pas-pasan. “Kalau lagi beruntung ya bisa dapat Rp 75.000,” kata Ny Nenah, istri seorang penambang. Tapi yang sering ya hanya Rp 30.000 sehari.

Hitungannya, satu kelompok penambang yang terdiri dari empat orang umumnya hanya bisa menghasilkan 2-3 ton batubara sehari. Jika satu kg dihargai Rp 100, itu artinya uang yang mereka dapat hanya Rp 200.000-Rp 300.000 atau Rp 50.000-Rp 75.000 sehari.

“Padahal sering juga mereka tidak bisa kerja penuh sehari. Untuk membuang air saja sering harus berjam-jam. Belum lagi kalau hari hujan, mereka tidak bisa kerja,” kata Suyadi.
Tidaklah mengherankan kalau kehidupan para penambang di Bayah dan tiga kecamatan lain di Banten (Cihara, Cibeber, dan Pangarengan) hanya pas-pasan.

Di rumah Nenah, misalnya, tak ada barang yang bisa dibanggakan. Di rumah sederhana berlantai semen dan sebagian dinding bata belum diplester itu, hanya ada tape compo lama, satu tempat tidur, satu lemari, dan sepasang kursi. Tak ada tv yang di Bayah harus didukung dengan parabola berharga Rp 800.000.

“Ya beginilah kehidupan penambang. Tidak bisa punya apa-apa,” kata Nenah yang punya dua anak masih SD itu… (M Suprihadi)

Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar